Siapa yang sedang bercerita??
Uwaah, sudah lama nih gak posting. Mohon maaf ya para pembaca, Desember kemarin kami memutuskan untuk hiatus karena lumayan hectic di RL. But, karena sekarang kita sudah comeback, kuy kita bahas topik yang menarik yaitu Viewpoint.
Buat yang udah biasa nulis, harusnya ini adalah topik yang familiar. Mungkin cuma beda penyebutan aja kali ya? Mungkin temen-temen akan lebih familiar dengan istilah . . .
POV (Point of View), Perspektif, Sudut Pandang
Yang mana sebenernya sama aja sih. . .
Sudut pandang ini mencakup soal bagaimana sih si cerita ini jadinya jika disampaikan oleh entitas tertentu. Ketika diuraikan lebih lanjut, sudut pandang ini akan membahas soal:
- Siapa nih yang bercerita? Alias, siapa naratornya?
- Gimana sih si narator ini bercerita?
- Apakah informasi aktual dari cerita ini disaring dulu oleh narator sebelum sampai ke pembaca?
- Bagaimana informasi tersebut disaring? Dan yang paling penting…
- Apa efeknya pada pembaca?
Begitulah kira-kira…
Yuk kita lanjut bahas soal jenis-jenis sudut pandang.
Mainstream Teaching
Mungkin ketika temen-temen masih SD atau SMP, bahasan mengenai sudut pandang ini pernah diajarkan di pelajaran Bahasa Indonesia. Di situ temen-temen akan diajarkan bahwa sudut pandang yang dipakai dalam karya fiksi itu umumnya ada dua, dengan perbedaan mencolok pada penggunaan kata ganti sebagai berikut:
-Orang Pertama >> Menggunakan kata ganti “Aku”
Sudut pandang orang pertama ini ditulis seolah-olah karakter (dalam cerita) sedang bercerita secara langsung pada pembaca. Menceritakan apa yang dialamainya.
Contoh:
Aku akan mati besok pagi. Setidaknya, itulah yang dikatakan para inkuisitor ketika mengunjungi selku. Sudah berminggu-minggu aku dikurung di sini—aku mengetahuinya karena selalu menghitung makanan-makanan yang diantarkan untukku
The Young Elites - Marie Lu
-Orang Ketiga >> Menggunakan kata ganti “Dia”, atau nama karakter
Sudut pandang orang ketiga ditulis seperti ada seseorang di luar cerita yang sedang bercerita pada pembaca.
Contoh:
Mark terbangun. Tidak dengan jeritan atau teriakan, dan dia tidak langsung terduduk atau tersentak, atau sesuatu sedramatis itu. Dia hanya membuka mata, dan langsung menyadari bahwa matanya berair dan wajahnya basah. Matahari telah muncul, bersinar cerah ke celah-celah pepohonan.
Kill Order - James Dashner
Kalau ternyata guru kalian lumayan antusias dengan literatur fiksi, nanti kalian akan diajarkan bahwa sudut pandang orang ketiga itu terbagi dua, plus akan ada juga pembahasan soal sudut pandang orang kedua, kira-kira sebagai berikut:
-Orang Ketiga Terbatas
Di mana dalam sudut pandang ini, narator hanya akan nempel pada satu karakter, dan hanya tau isi kepala dari karekter yang ditempelinya. Kalaupun mau nempel ke karakter lain, akan ada pemisah yang jelas.
Misal, si narator lagi nempel sama karakter A, di sini si narator cuma bisa mengetahui dan merasakan apa yang karakter A ketahui dan rasakan. Ketika karakter A berada di dalam kamar dan tiba-tiba karakter B mengetuk pintu dari luar, si narator cuma akan menyampaikan soal pintu diketuk tanpa ada informasi soal siapa yang mengetuk.
-Orang Ketiga Serba Tau / Serba Tau
Di sini, si narator secara bebas nempel ke karakter manapun dalam cerita tanpa perlu pemisah. Si narator punya akses tak terbatas mengenai hal-hal yang diketahui dan dirasakan semua karakter dalam cerita.
Dalam situasi yang sama seperti contoh Orang ketiga terbatas, narator akan menceritakan soal karakter A yang mendengar pintu kamarnya diketuk oleh karakter B yang hendak meminjam uang.
-Orang Kedua
Sudut pandang ini akan menggunakan “Kamu” sebagai kata ganti orang.
Di sini, cerita ditulis seolah pembaca adalah karakter dalam cerita tersebut. Dengan kata lain, karya yang menggunakan sudut pandang orang kedua adalah karya yang menceritakan tentang pembaca. Lah kok bisa?
Emang si penulis tau soal kehidupan pembaca?
Gimana kalau keputusan-keputusan yang karakter (Pembaca) ambil gak sesuai dengan yang pembaca mau?
Well, memang gak mudah menulis dengan sudut pandang ini. Dan karya-karya yang menggunakan sudut pandang ini pun sangat jarang.
Tapi, sudut pandang ini sangat cocok untuk karya Interactive Fiction seperti Choose Your Own Adventure series, di mana pembaca berperan sebagai protagonis dan nantinya mengambil keputusan-keputusan yang akan berpengaruh pada bagaimana cerita berakhir. Cerita akan berakhir happy atau sad tergantung pada pilihan yang diambil pembaca.
Sekarang, mari kita bahas viewpoint dari ajaran yang less mainstream.
Brando Sando on Viewpoint
Namanya Brandon Sanderson. Dia adalah penulis fantasi dari Amerika Serikat yang terkenal akan Cosmere dan filosofinya mengenai magic system. Di samping kesibukannya menulis, Brandon adalah salah satu dosen Creative Writing di Brigham Young University yang fokus pada pembahasan fantasy & sci-fi.
Salah satu bahasan yang menarik di kelas Brandon adalah pandangannya terhadap viewpoint yang bisa dibilang agak berbeda dari ajaran mainstream.
Nah, kaya gimana sih sebenernya pandangan Brando Sando ini? Langsung aja liat catatan papan tulis kelas tahun 2020 di bawah.
Sama seperti ajaran mainstream, Brandon juga membagi viewpoint manjadi tiga, walau ada sedikit istilah yang berbeda seperti Omniscient (Serba tahu) yang mana ini sebenernya ya third-person viewpoint. Oke, langsung kita bahas aja satu-satu.
Btw, kita akan skip pembahasan soal second-person. Karena kurang lebih pembahasannya sama aja dengan ajaran mainstream di atas, dan Brandon pun gak punya bahasan tambahan soal ini selain:
- It is rare
- It is literary fiction
- It is edgy
- Don’t do it (Jokingly)
Anyway …
First-person >> Epistolary
Epistolary dalam bahasa Inggris berarti “Ditulis dalam bentuk kumpulan surat”.
Artinya karya-karya epistolary disajikan (seolah-olah) dalam bentuk dokumen-dokumen yang kemudian dikumpulkan dan disusun menjadi sebuah buku. Lalu dokumen-dokumennya ini apa aja sih?
Ya, macem-macem… Surat-surat pribadi/resmi, diary, sobekan kolom berita dari sebuah koran, jurnal ilmiah, bahkan CV, dan lain-lain yang mana semuanya tergantung pada kebutuhan si penulis. Dokumen-dokumen ini pun gak mesti dalam bentuk tradisional (ditulis di kertas), bisa juga digital seperti email, sms, bahkan rekaman pembicaraan. Tapi umumnya berupa surat.
Kelebihan dari epistolary yang paling utama adalah misteri. Karena bentuknya yang berupa kumpulan dokumen tanpa adanya narator yang bercerita, pembaca gak akan tau apa yang sebenernya terjadi selain yang tertulis pada dokumen tersebut.
Misteri ini pun membuat penulis bisa lebih leluasa menyembunyikan info-info untuk diungkap nanti (twist) tanpa terkesan melakukan kecurangan. Kalau ditanya “Kok bisa sih informasi ini ga ada?” ya bilang aja “Emang si penulis dokumennya yg gak menulis itu”, tapi ya tetep perlu perhitungan soal promise vs. payoff.
Satu lagi kelebihan dari epistolary adalah Immersion. Hmmm, apa ya bahasa Indonesianya? Intinya pembaca akan merasa bener-bener masuk ke dalam cerita dan si ceritanya sendiri akan terasa lebih nyata.
Untuk kekurangan dari epistolary yang paling utama adalah form nya. Bentuk tulisan dari epistolary sendiri merupakan kekurangan karena lumayan saklek, terbatas pada kumpulan dokumen yang kalau tidak disusun dengan baik akan terkesan random dan membuat bingung pembaca.
Karya-karya epistolary yang bisa kalian baca diantaranya:
-Drakula karya Bram Stoker http://www.gutenberg.org/ebooks/345
-The Illuminae Files series karya Amie Kaufman & Jay Kristoff
First-person >> Flashback
Viewpoint ini mungkin terdengar gak biasa karena memang Brandon sendiri yang menamainya, dan dari tahun ke tahun penyebutan viewpoint ini bisa ganti tergantung mood nya bang Brando.
So, flashback …
Karena ini adalah sudut pandang orang pertama, kata ganti yang digunakan adalah “Aku”.
Hal yang menonjol dari First-person Flashback adalah adanya karakter dalam cerita yang sedang menceritakan pengalaman masa lalunya. Seringnya akan terasa seperti karakter tersebut sedang menceritakan bagaimana pengalamannya hingga bisa jadi seperti sekarang.
Jadi dalam cerita dengan viewpoint ini akan ada satu karakter, tapi dengan dua versi:
- Karakter versi saat ini (Narator)
- Karakter versi lampau (Karakter yang sedang diceritakan oleh narator)
Secara umum, kelebihan terbesar dari first-person viewpoint adalah kedekatan antara karakter dengan pembaca. Di sini pembaca akan sangat mengenal si karakter dari mulai cara berbicara, kebiasaan-kebiasaan aneh, isi pikiran, dan lain-lain sampai bisa dibilang pembaca akan paham banget soal si karakter ini inside out. Bahkan temen deket si karakter pun ga akan sepaham itu.
Khusus untuk flashback viewpoint, pembaca akan lebih paham lagi soal si karakter. Why?
Coba bayangin seorang karakter bernama Budi. Budi versi saat ini sudah berumur 35 tahun. Sukses, dan kaya raya dari hasil bisnisnya. Makan di restoran udah ga perlu liat harga. Pokonya hyper-succesful men deh. Tapi dia kesepian. Hatinya penuh dengan rasa dendam kesumat karena perselingkuhan mantan istrinya. Sampai-sampai dia udah ga percaya lagi sama perempuan. Hatinya sudah tertutup rapat.
Lalu bayangin Budi versi lampau. Katakanlah di umur 21 tahun. Bocah naif yang merasa bahwa dunia ini penuh dengan pelangi dan menganggap semua orang itu baik. Dengan bisnis yang masih dirintis dan segala problematikanya, Budi menghadapi semuanya dengan senyuman dan semangat membara. Lalu suatu hari Budi bertemu dengan Lia. Mereka jalan bareng, pacaran, up and down, nikah, sampai akhirnya perselingkuhan itu terjadi.
Gimana, kebayang?
Dalam cerita dengan flashback viewpoint, Budi yang 35 tahun ini akan bercerita bagaimana dia yang awalnya naif dan penuh harap menjadi sinis, penuh dendam dan kesepian. Pembaca akan melihat bagaimana sedikit demi sedikit si Budi ini berubah. Pembaca akan melihat gimana si Budi yang 35 tahun ini jijik banget dengan Budi versi lampau.
Ini contoh asal-asalan yang coba saya buat.
Dengan begitu menyedihkan, aku berlutut dihadapan Lia. Memperlihatkan sekotak cincin, sambil tersenyum memelas penuh harap, seperti pengemis kelaparan. Di situ aku berkata,
“Maukah kamu menjadi majikan ku?” Tentu saja aku tidak mengatakan itu. Namun, sepertinya permintaan maukah kamu menikah denganku? sebenarnya punya arti yang sama. Biarpun begitu, saat itu aku sangat bahagia, telah diterima menjadi budak seekor ular.
Kaya gitulah kira-kira.
Dengan adanya dua versi Budi inilah kenapa pembaca akan semakin paham dan dekat dengan Budi. Selain itu kontras antara dua versi Budi ini akan menarik ketika di baca.
Satu lagi kelebihan dari first-person viewpoint adalah sebuah konsep yang namanya Unreliable Narrator atau Untrustworthy Narrator. Nanti di post-post berikutnya maungkin akan kita bahas soal ini. Intinya, narator ini gak bisa dipercaya. Dengan narator yang kaya gini, penulis punya sedikit keleluasaan dalam menyembunyikan info-info penting dari pembaca yang bisa digunakan untuk membuat Twist.
Kekurangan dari flashback viewpoint ini adalah pembaca udah tau kalo pada akhirnya si karakter ini bakal hidup. Jadi ketika ada scene berantem sama perampok, scene kecelakaan, dan lain-lainnya, ya pembaca gak akan berasa tegang dan takut si karakter ini bakal mati.
Salah satu novel yang menggunakan flashback viewpoint adalah The Name of the Wind karya Patrick Rothfuss
First-person >> Cinematic
Cerita yang menggunakan first-person cinematic ini diceritakan menggunakan kata ganti orang pertama juga alias “Aku”, tapi si karakter menceritakannya saat itu juga. Apa yang dialami si karakter saat itu langsung diceritakan pada pembaca saat itu juga. Jadi, si karakter bukan menceritakan hal-hal yang sudah lampau.
Kalau dibayangkan, seolah seperti ada chip yang dipasang dalam kepala si karakter, dan si chip itu akan menceritakan semua yang terjadi pada si karakter saat itu juga, menggunakan kata ganti orang pertama. Dibandingkan dengan flashback, cinematic viewpoint ini karakternya cuma ada satu versi (Versi saat ini).
Viewpoint ini adalah salah satu yang paling sering digunakan oleh penulis, apalagi di novel-novel YA (Young Adult). Bisa dicoba karyanya Brandon Sanderson berjudul Steelheart, dimana prolognya itu flashback dan mulai jadi cinematic di bab 1.
Secara umum, kelebihan dan kekurangan dari cinematic ini sama aja dengan flashback, bedanya pembaca gak akan tau si karakter ini akhirnya mati atau enggak, sehingga perasaan tegang akan tetap tinggi di scene-scene yang mengancam nyawa si karakter.
Dan tambahan satu lagi untuk kekurangan dari first-person secara umum adalah gak bisa punya banyak karakter viewpoint. Di beberapa buku yang menggunakan first-person, bakal ada yang seperti ini…
Bab 1 (Budi)
Bab 2 (Andi)
Bab 3 (Budi)
Bab 4 (Lia)
Cerita di atas punya 3 karakter viewpoint (Budi, Andi, dan Lia).
Semakin banyak karakter yang dikasih viewpoint, pembaca akan semakin pusing. Dalam artian, pembaca akan terbebani buat mikirin siapa sih si “Aku” ini.
Kalo karakter viewpointnya cuma beberapa, pembaca mungkin masih bisa kenal si “aku” ini siapa. Bayangin kalo karakter viewpointnya ada 20+ atau bahkan 100+. Selain pusing mikirin si “aku’ ini siapa, kedekatan pembaca dengan karakter pun akan terganggu. Pusing deh pokoknya.
Omniscient Viewpoint
Sudut pandang omniscient yang dibahas oleh Brandon ini pada dasarnya adalah sudut pandang orang ketiga, dengan pengguanaan “Dia”, atau nama karakter sebagai kata ganti orang. Untuk omniscient sendiri artinya serba tau, dimana si narator ini tau banyak hal, mulai dari isi kepala dan perasaan banyak karakter, hingga masa lalu dan masa depan dari banyak karakter dari sebuah cerita.
Pengubahan nama viewpoint dari orang ketiga menjadi serba tau ini masuk akal. Karena kalo kita telaah soal karakteristik dari viewpoint orang ketiga, ya memang benar serba tau. Si narator bisa tau isi pikirkan banyak karakter, misalkan Budi, Andi, Lia entah itu bersamaan dalam satu scene ataupun terpisah. Beda dengan Viewpoint orang pertama yang si naratornya cuma bisa tau isi pikiran satu karakter saja.
Selanjutnya langsung aja kita bahas soal turunan-turunan dari omniscient viewpoint ini.
Omniscient >> Limited
Viewpoint ini punya arti serba tau tapi terbatas. Yang sebenarnya hanya pengubahan nama dari orang ketiga terbatas.
Poin pentingnya, dalam sebuah scene, narator hanya hanya akan menempel pada satu karakter. Narator dan pembaca hanya bisa melihat melalui mata karakter tersebut, merasakan dan mengerti apa yang dirasakan karakter tersebut, juga mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh karakter tersebut. Ketika satu scene telah selesai, narator baru bisa berpindah ke karakter yang lain. Jadi pada dasarnya si narator ini serba tau alias omniscient, tapi terbatas hanya bisa menempel pada satu karakter saja dalam sebuah scene.
Untuk karakter yang sedang tidak ditempel, narator cuma bisa berasumsi sesuai dengan isi pikiran karakter yang sedang ditempel.
Agak mirip ya dengan first person viewpoint? Perbedaan mencoloknya cuma di penggunaan kata ganti, plus kedekatan batin antara karakter dan pembaca, yang mana first person akan terasa lebih dekat.
Hari ini akan sangat membosankan. Bagi Budi, lebih baik mengerjakan ratusan lembar laporan daripada harus libur tanpa mengerjakan apapun. Sebenarnya bisa saja Budi beres-beres rumah, tapi setiap harinya rumah selalu sudah beres. 5:00 terpampang di jam dinding, mata Budi sudah terbuka lumayan lama. Badan Budi pun tidak bergerak, hanya terbaring. Tak ada yang bisa dikerjakan.
Tak lama Budi mendengar suara. Kali ini 7:00 terpampang di jam dinding. Ah, Suara. Suara yang Budi dengar seperti suara kayu yang dipukul pelan tiga kali, berhenti, lalu dipukul lagi tiga kali, terus berulang sampai akhirnya Budi merasa terganggu dan berhenti menatap jam dinding untuk melihat ke sekitar. Rupanya ada yang mengetuk pintu kamar Budi. Siapa yang bisa-bisanya mengganggu orang pagi-pagi di hari libur?
Dari contoh di atas, bisa dilihat kalau si Narator ini hanya melihat apa yang sedang Budi lihat. Dimana si Budi hanya sedang fokus menatap jam dinding tanpa memperhatikan hal lain, sampai-sampai tidak sadar kalau suara yang dia dengar ternyata adalah pintu kamarnya yg sedang diketuk oleh tamu. Budi tidak tau siapa yang mengetuk dan apa tujuannya, tapi budi berasumsi kalau orang tersebut hendak mengganggu paginya yang tenang.
Kelebihan dari viewpoint ini adalah pembaca jadi punya pandangan yang lebih objektif mengenai apa yang terjadi di sekitar karakter yang sedang ditempel, karena biar bagaimanapun narator disini adalah pengamat pihak ketiga.
Misalkan, ada karakter yang sedang bergumam bahwa air yang dia minum sangatlah menyegarkan dan menghilangkan masalah-masalah yang ada di kepalanya, padahal yang dia minum adalah alkohol. Jika menggunakan first person viewpoint, si narator akan bilang bahwa yang dia minum itu air. Beda dengan omniscient limited yang mana narator akan tetap bilang kalau yang dia minum adalah alkohol.
Setelah harinya yang penuh dengan makian dari sang bos, Nadine hanya bisa duduk sambil menatap gelas bening yang dipegangnya.
“Tak ada yang lebih baik dari segelas air putih untuk mengakhiri hari yang payah, iya kan bung?” celetuk Nadine pada kursi kosong disampingnya, sambil kembali meneguk habis isi gelasnya. “Aku bahkan sudah tidak ingat mengapa hari ini sangat payah”
Entah sudah berapa gelas vodka yang Nadine minum. Yah, setidaknya semua kepayahan hari ini bisa hilang walau hanya sejenak.
Objektivitas viewpoint ini selain menjadi kelebihan, juga menjadi kelemahan yang agak merepotkan buat para penulis yang suka menyembunyikan fakta-fakta untuk dijadikan twist. Karena jika pembaca sadar kalau si narator ini sengaja berbohong atau secara aktif menyembunyikan fakta-fakta tertentu hanya demi sebuah twist, pembaca akan merasa dicurangi. Jadi hati-hati aja ketika menggunakan viewpoint ini.
Sebentar-sebentar, merasa dicurangi itu gimana sih maksudnya?
Mari kita bayangkan. katakanlah ada sebuah novel yang kalian bener-bener perhatiin segala sesuatunya sampai clue sekecil apapun gak terlewat. Lalu sampailah pada part yg tiba-tiba muncul twist. Dan si twist ini bener-bener muncul entah dari mana. Semua clue yang sudah kalian perhatikan betul-betul gak ada sangkut pautnya dengan si twist ini. Pada akhirnya kalian merasa semua perhatian yang kalian kasih pada si novel ini berasa sia-sia. Lalu ketika kalian baca ulang, ternyata ada part tertentu yang si naratornya sengaja menyembunyikan fakta yg terkait dengan si twist. Di situlah pembaca akan merasa dicurangi.
Misalkan, di depan si karakter ini jelas banget terpampang petunjuk, bahkan si karakter pun emang melihat, tapi kenapa ko narator malah diem aja? Di sinilah perbuatan curangnya.
Oke lanjut…
Untuk karya-karya terkenal yang menggunakan omniscient limited viewpoint sangatlah banyak, karena viewpoint ini memang salah satu yang terfavorit.
Kalian bisa coba baca The Final Empire dari Brandon Sanderson. Dalam novel ini, Brandon bisa dengan apik menyembunyikan fakta-fakta penting tanpa membuat pembaca merasa dicurangi.
Omniscient >> True
Dibaca True Omniscient, alias “Bener-bener serba tau”. Kalau di omniscient limited, narator dan pembaca hanya bisa melihat melalui mata karakter yang di tempel. Sedangkan di true omnisceient, narator dan pembaca itu bisa melihat dari mata semua karakter mau itu sedang ditempel ataupun tidak. Jadi, narator gak akan terbatas cuma bisa menempel pada satu karakter dalam satu scene. Narator bisa nempel ke beberapa karakter sekaligus dalam satu scene.
Berikut contoh asal-asalan dari True Omniscient
Budi merasa akhir pekan ini akan sangat membosankan. Seperti akhir pekan yang sudah-sudah, tidak akan ada yang bisa Budi kerjakan. Hal sepele seperti merapikan kamar pun sepertinya tidak bisa. Bibi Nora selalu sudah menyelesaikan semuanya sebelum Budi terbangun. Bagi bibi Nora, kenyamanan Budi di rumah adalah yang utama, dan bibi Nora tidak mau ambil pusing walaupun semua yang dia lakukan membuat Budi membencinya.
Pagi itu Budi bangun lebih cepat. Sudah jam 4 pagi. Seperti yang sudah direncanakan semalam, Budi ingin merapikan kamarnya sendiri, jadi Budi harus bangun pagi-pagi supaya bisa mengusir bibi Nora ketika dia datang. Budi langsung beranjak dari tempat tidurnya untuk mengganjal pintu kamar dengan meja belajarnya, lalu kembali berbaring di tempat tidur. Budi masih berpikir keras harus seperti apa cara berbicaranya nanti pada bibi Nora. Sebenarnya apa yang dilakukan bibi Nora bukanlah hal buruk, tapi Budi benar-benar sudah muak dengan akhir pekannya yang selalu tidak ada kerjaan.
Di sela-sela pikiran Budi, pintu kamar Budi diketuk oleh bibi Nora. Namun tidak ada jawaban, Budi pun hanya diam menatap jam dinding. Ini adalah hal yang tidak biasa buat Bibi Nora ketika tau pintu kamar Budi tidak bisa dibuka. Apa terjadi hal-hal aneh pada Budi? Sedikir khawatir, Bibi Nora mencoba mengetuk lagi beberapa kali sampai Budi tersadar dari lamunannya.
Dari contoh di atas, harusnya jelas ya si narator ini pindah-pindah kepala dan gak menempel pada siapapun.
Viewpoint ini, kelemahannya terbesarnya adalah jauhnya jarak antara pembaca dengan si karakter dalam cerita. Dan viewpoint ini akan lebih objektif sehingga akan lebih sulit menyembunyikan fakta-fakta untuk membuat twist. Dan kalau kata Brandon, ini viewpoint yang lumayan sulit untuk di coba dengan hasil yang memuaskan. Oh iya satu lagi, penerbit udah gak terlalu tertarik dengan viewpoint ini.
Untuk kelebihannya, ini tergantung dari si penulisnya sih ya…
Jadi, kalo si penulis punya voice atau cara bercerita yang bagus dan unik, viewpoint ini sangat cocok untuk itu.
Untuk karya terkenal yang menggunakan True Omniscient, kalian bisa coba baca Dune Series.
Omniscient >> Present Narrator
Keyword: “There is a storyteller telling you a story”
Present Narrator ini mungkin kalau di Bahasa Indonesiakan artinya adalah “Ada narator”, alias si cerita ini tuh ada naratornya. Ibarat pas kalian masih kecil dulu, sebelum tidur suka didongengi sama orang tua kalian, nah dongeng yang kalian denger itu ada narator atau storytellernya yaitu orang tua kalian. Atau contoh lainnya, pas lagi nongkrong malem-malem nih, dengerin temen kalian yang lagi nyeritain satpam sekolah tiap malem bertarung sama pocong, nah cerita pocong ini ada storytellernya yaitu temen kalian.
Intinya dalam cerita dengan viewpoint ini, pembaca akan merasa seperti sedang didongengi oleh seseorang. Yang mana si seseorang ini bukanlah karakter yang ada dalam cerita. Seringnya kalian gak akan tau siapa sih sebenernya yang lagi cerita ini, tapi kalian akan merasakan kalo dia ini ada dengan adanya kalimat-kalimat yang secara langsung atau tidak langsung menyapa pembaca seperti:
“Sampai dimana kita tadi? Oh ya, mereka ini adalah . . .”
“Cerita ini berawal dari kemarahan seorang peri, apakah kalian tau apa itu peri?”
“Bagi kebanyakan orang, ah kita kesampingkan dulu orang kebanyakan. Kebanyakan dari kalian akan menganggap perlakuan Budi ini sangat biadab . . .”
Oh iya sampai lupa, secara umum narator dalam viewpoint ini serba tau. Mirip dengan True Omniscient yang bisa leluasa berpindah-pindah kepala.
Untuk buku yang punya viewpoint seperti ini, tidak lain dan tidak bukan The Hobbit karya J.R.R. Tolkien.
Gimana nih temen-temen? apakah memuaskan bahasan kali ini? kalau ada yang ingin ditanyakan. silahkan tinggalkan komentar ya . . .
0 Comments